Ebook praktis budidaya pepaya

ebook budidaya pepaya

PEPAYA (Cacarica papaya, L)
Di Indonesia tanaman pepaya tersebar dimana-mana bahkan telah menjadi tanaman perkarangan. Senrta penanaman buah pepaya di Indonesia adalah daerah Jawa barat (kabupaten Sukabumi), Jawa Timur (kabupaten Malang), Pasar Induk Kramat Jati DKI, Yogyakarta (Sleman), Lampung Tengah, Sulawesi Selatan (Toraja),Sulawesi Utara (Manado).
Buah pepaya memiliki beragam manfaat, yaitu :
  1. Buah masak yang populer sebagai "buah meja", selain untuk pencuci mulut juga
    sebagai pensuplai nutrisi/gizi terutama vitamin A dan C. Buah pepaya masak yang
    mudah rusak perlu diolah dijadikan makanan seperti sari pepaya, dodol pepaya.
    Dalam industri makanan buah pepaya sering dijadikan bahan baku pembuatan
    (pencampur) saus tomat yakni untuk penambah cita rasa, warna dan kadar
    vitamin.
  2. Dalam industri makanan, akarnya dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit
    ginjal dan kandung kencing.
  3. Daunnya sebagai obat penyembuh penyakit malaria, kejang perut dan sakit
    panas. Bahkan daun mudanya enak dilalap dan untuk menambah nafsu makan,
    serta dapat menyembuhkan penyakit beri-beri dan untuk menyusun ransum ayam.
  4. Batang buah muda dan daunnya mengandung getah putih yang berisikan enzim
    pemecah protein yang disebut “papaine” sehingga dapat melunakan daging untuk
    bahan kosmetik dan digunakan pada industri minuman (penjernih), industri
    farmasi dan textil.
  5. Bunga pepaya yang berwarna putih dapat dirangkai dan digunakan sebagai
    “bunga kalung” pengganti bunga melati atau sering dibuat urap. Batangnya dapat
    dijadikan pencampur makanan ternak melalui proses pengirisan dan
    pengeringan.
Jika anda tertarik untuk membudidayakan buah pepaya, anda bisa download ebook praktis panduan budidaya pepaya, klik di sini untuk mendownload.
Semoga artikel ini bermanfaat,terimakasih sudah berkunjung di blog saya.

sumber : Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340 Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id 

Teknik praktis budidaya melon

teknik budidaya buah melon


PENDAHULUAN
Agribisnis melon menunjukkan prospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang
semakin keras, miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor
iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman serta faktor pemeliharaan tidak
diperhatikan maka keuntungan akan menurun.
PT. Natural Nusantara berusaha membantu meningkatkan produktivitas melon secara
Kuantitas, Kualitas, dan Kelestarian lingkungan ( Aspek K-3 ).
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Perlu penyinaran matahari penuh selama pertumbuhannya. Pada kelembaban yang
tinggi tanaman melon mudah diserang penyakit. Suhu optimal antara 25-300C. Angin
yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon. Hujan terus menerus akan
merugikan tanaman melon. Tumbuh baik pada ketinggian 300-900 m dpl.
2.2. Media Tanam
Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik
seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat
tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik,
maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH
tanah 5,8-7,2.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Pembuatan Media Semai
Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk
kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan + 1 minggu di tempat yang teduh
dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
Campurkan tanah halus (diayak) 2 bagian/2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang
matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian/1 ember, TSP (± 50 gr) yang
dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan
dalam pupuk kandang 1-2 kg . Masukkan media semai ke dalam polybag ukuran 8x10
cm sampai terisi hingga 90%.
3.1.2. Teknik Penyemaian dan pemeliharaan Bibit
Rendam benih dalam 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 tutup POC NASA selama 8-12
jam lalu diperam + 48 jam. Selanjutnya disemai dalam polybag, sedalam 1-1,5 cm.
Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah.
Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 2:1.
Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh sejak terbit
hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan yang salah satu ujungnya
terbuka.
Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, pada umur bibit 7-9 hari
dengan dosis 1,0-1,5 cc/liter. Penyiraman dilakukan dengan hati-hati secara rutin setiap
pagi.
Bibit melon yang sudah berdaun 4-5 helai atau tanaman melon telah berusia 10-12 hari
dapat dipindahtanamkan dengan cara kantong plastik polibag dibuka hati-hati lalu bibit
berikut tanahnya ditanam pada bedengan yang sudah dilubangi sebelumnya, bedengan
jangan sampai kekurangan air.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Pembukaan Lahan
Sebelum dibajak digenangi air lebih dahulu semalam, kemudian keesokan harinya
dilakukan pembajakan dengan kedalaman sekitar 30 cm. Setelah itu dilakukan
pengeringan, baru dihaluskan.
3.2.2. Pembentukan Bedengan
Panjang bedengan maksimum 12-15 m; tinggi bedengan 30-50 cm; lebar bedengan
100-110 cm; dan lebar parit 55-65 cm.
3.2.3. Pengapuran
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit ,
untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit
sebanyak 50 kg.
3.2.4. Pemupukan Dasar

Pupuk kandang
(ton/ha)
Dosis Pupuk Makro
( gram/ pohon )
Dosis POC NASA
UreaSP36KCI
4-51220830-60 tutup /1000 m2 + air secukupnya (siramkan)

Hasil akan lebih baik jika pada pemupukan dasar, POC NASA diganti SUPER NASA
yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis 1-2 botol/1000
m2 dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk.
Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA
untuk menyiram + 10 meter bedengan.
3.2.5. Pemberian Natural GLIO
Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur terutama penyakit layu, sebaiknya
tebarkan Natural GLIO yang sudah disiapkan sebelum persemaian. Dosis 1-2 kemasan
per 1000 m2
3.2.6. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam-Perak (PHP)
Pemasangan mulsa sebaiknya saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat. Biarkan bedengan tertutup mulsa 3-5 hari sebelum
dibuat lubang tanam.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Pembuatan Lubang Tanam
Diameter lubang + 10 cm, jarak lubang 60-80 cm. Model penanaman dapat berupa dua
baris berhadap-hadapan membentuk segiempat atau segitiga.
3.3.2. Cara Penanaman
Bibit siap tanam dipindahkan beserta medianya. Usahakan akar tanaman tidak sampai
rusak saat menyobek polibag.
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Penyulaman dilakukan 3-5 hari setelah tanam. Setelah selesai penyulaman tanaman
baru harus disiram air. Sebaiknya penyulaman dilakukan sore hari
3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma/ rumput liar.
3.4.3. Perempelan>
Perempelan dilakukan terhadap tunas/cabang air yang bukan merupakan cabang
utama.
3.4.4. Pemupukan

Waktu
(ton/ha)
Dosis Pupuk Makro
( gram/ pohon )
UreaSP-36KCI
Umur 10 hari121210
Umur 20 hari121210
Umur 30 hari12812
Umur 40 hari12820
POC NASA : ( per ha ) Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 mingguPOC NASA disemprotkan ke tanaman : • Alternatif 1 : 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki • Alternatif 2 : 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki

3.4.5. Penggunaan Hormonik
Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-5 tutup POC NASA
setiap tangki semprot. Penyemprotan HORMONIK mulai usia 3-11 minggu, interval 7
hari sekali.
3.4.6. Penyiraman
Penyiraman sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai akan dipetik buahnya kecuali
hujan. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah
jangan terkena daun dan buahnya. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali.
3.4.7. Pemeliharaan Lain
a. Pemasangan Ajir
Ajir dipasang sesudah bibit mengeluarkan sulur-sulurnya. Tinggi ajir + 150 - 200 cm. Ajir
terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan beban buah + 2-3 kg. Tempat
ditancapkannya ajir + 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri. Supaya ajir
lebih kokoh bisa menambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk
segitiga antara bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di
belakangnya.
b. Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang
sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20
sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan
dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur. Waktu
pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah
cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabangcabang
yang tumbuh dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan
dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25.
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
a. Kutu Aphis (Aphis gossypii Glover )
Ciri: mempunyai getah cairan yang mengandung madu dan di lihat dari kejauhan
mengkilap. Aphis muda berwarna kuning, sedangkan yang dewasa mempunyai sayap
dan berwarna agak kehitaman. Gejala: daun tanaman menggulung, pucuk tanaman
menjadi kering akibat cairan daun dihisap hama. Pengendalian: (1) gulma selalu
dibersihkan agar tidak menjadi inang hama; (2) semprot Pestona atau Natural BVR.
b. Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Ciri: menyerang saat fase pembibitan sampai tanaman dewasa. Nimfa berwarna
kekuning-kuningan dan dewasa berwarna coklat kehitaman. Serangan dilakukan di
musim kemarau. Gejala: daun muda atau tunas baru menjadi keriting, dan bercak
kekuningan; tanaman keriting dan kerdil serta tidak dapat membentuk buah secara
normal. Gejala ini harus diwaspadai karena telah tertular virus yang dibawa hama
thrips. Pengendalian: menyemprot dengan Pestona atau Natural BVR.
3.5.2. Penyakit
a. Layu Bakteri
Penyebab: bakteri Erwina tracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini dapat disebarkan dengan
perantara kumbang daun oteng-oteng (Aulacophora femoralis Motschulsky). Gejala:
daun dan cabang layu, terjadi pengerutan pada daun, warna daun menguning,
mengering dan akhirnya mati; daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya
tetap hijau. Apabila batang tanaman yang dipotong melintang akan mengeluarkan lendir
putih kental dan lengket bahkan dapat ditarik seperti benang. Pengendalian:
penggunaan Natural GLIO sebelum tanam.
b. Penyakit Busuk Pangkal Batang (gummy stem bligt)
Penyebab: Cendawan Mycophaerekka melonis (Passerini) Chiu et Walker. Gejala:
pangkal batang seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat
dan kemudian tanaman layu dan mati; daun yang terserang akan mengering.
Pengendalian: (1) penggunaan mulsa PHP untuk mencegah kelembaban di sekitar
pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena
penyiangan; (2) daun yang terserang dibersihkan. (3) gunakan Natural GLIO sebelum
tanam sebagai pencegahan.
Catatan: Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami
belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar
penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan
tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
3.5.3. Gulma
Gulma (tumbuhan pengganggu) merugikan tanaman, karena bersaing zat hara, tempat
tumbuh dan cahaya. Pencabutan gulma harus dilakukan sejak tumbuhan masih kecil,
karena jika sudah besar akan merusak perakaran tanaman melon.
3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
a. Tanda/Ciri Penampilan Tanaman Siap Panen
1. Ukuran buah sesuai dengan ukuran normal
2. Jala/Net pada kulit buah sangat nyata/kasar
3. Warna kulit hijau kekuningan.
b. Umur Panen + 3 bulan setelah tanam.
c. Waktu Pemanenan yang baik adalah pada pagi hari.
3.6.2. Cara Panen
a. Potong tangkai buah melon dengan pisau, sisakan minimal 2,0 cm untuk
memperpanjang masa simpan buah.
b. Tangkai dipotong berbentuk huruf "T" , maksudnya agar tangkai buah utuh.
c. Pemanenan dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang benarbenar
telah siap dipanen.
d. Buah yang telah dipanen disortir. Kerusakan buah akibat terbentur/cacat fisik lainnya,
sebaiknya dihindari karena akan mengurangi harga jual.
3.6.3. Penyimpanan
Buah melon tidak boleh ditumpuk, yang belum terangkut disimpan dalam gudang. Buah
ditata rapi dengan dilapisi jerami kering. Tempat penyimpanan harus bersih dan kering.

Artikel : Teknik praktis budidaya melon

Ebook panduan lengkap budidaya kroto


budidaya semut kroto

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Kroto adalah telur semut rangrang yang
menjadi makanan burung berkicau karena mempunyai kandungan protein yang cukup
tinggi. Selain itu Kroto juga menjadi umpan ikan tertentu sehingga banyak pemancing ikan
sering menggunakan kroto sebagai umpan pancing mereka padahal supply kroto sangatlah
terbatas.
Sampai saat ini para pencari kroto berburu kroto hingga keluar daerah yang jauh
dari tempat tinggalnya bahkan ada yang kehutan-hutan. Para pencari kroto bisa
mendapatkan kurang lebih 1 Kg kroto/hari dalam kondisi normal sedangkan pada kondisi
sulit misalnya waktu musim hujan mereka tidak akan lebih dari 1 Kg kroto. 1 Kg kroto
bagi pencari kroto bisa didapatkan dengan mengambil puluhan sarang ( 25 – 50 ) tentunya
bergantung pada jumlah koloni semut yang ada dalam sarang selain itu telur semut/ kroto
sangatlah ringan.
Pangsa pasar sangat besar supply sangat kecil itulah yang terjadi pada telur
semut/kroto. Harga telur semut / kroto dipasar burung saat ini sangat menakjubkan yaitu
berada dikisaran Rp.100 ribu sedangkan pada waktu tertentu misalnya Lebaran dapat
mencapai Rp.150 - 200 ribu rupiah. Pertanyaannya adalah kenapa kita tidak mencoba
untuk budidaya semut kroto ?
Budidaya Semut Kroto adalah tambang emas bagi orang yang tahu bisnis.jka anda tertarik untuk mencoba usaha ini  silahkan download Ebook panduan lengkap budidaya kroto klik di sini.

Teknik tepat budidaya bawang merah

tips budidaya bawang merah
        
Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Agar sukses budidaya bawang merah kita dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) di lapangan. Diantaranya cara budidaya, serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur mikro, dll yang menyebabkan produksi menurun. Memperhatikan hal tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu penyelesaian permasalahan tersebut. Salah satunya dengan peningkatan produksi bawang merah secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K - 3 ), sehingga petani dapat berkarya dan berkompetisi di era perdagangan bebas.

Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH 5.6 - 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-320 C2.

Pengolahan Tanah : Pupuk kandang disebarkan di lahan dengan dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)Dibuat bedengan dengan lebar 120 -180 cm. Diantara bedengan pertanaman dibuat saluran air (canal) dengan lebar 40-50 cm dan kedalaman 50 cm.Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu. Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan.

Pupuk Dasar : Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara merata diatas bedengan dan diaduk rata dengan tanah.Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di bedengan.Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 10 botol/1000 m2 dengan cara :- alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan Super Nasa untuk menyiram 5-10 meter bedengan.Biarkan selama 5 - 7 hari4. 

Pemilihan Bibit :  Ukuran umbi bibit yang optimal adalah 3-4 gram/umbi.- Umbi bibit yang baik yang telah disimpan 2-3 bulan dan umbi masih dalam ikatan (umbi masih ada daunnya)- Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak (tidak keropos), kulit umbi tidak luka (tidak terkelupas atau berkilau).

Penanaman : Jarak TanamPada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung atau BangkokPada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron2. Cara Tanam Umbi bibit direndam dulu dalam larutan NASA + air ( dosis 1 tutup/lt air )Taburkan GLIO secara merata pada umbi bibit yg telah direndam NASASimpan selama 2 hari sebelum tanamPada saat tanam, seluruh bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam permukaan tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.

Awal pertumbuhan ( 0 - 10 HST ) : 
  1. Pengamatan Hama : Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua atau S. litura), telur diletakkan pada pangkal dan ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas. Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil dan dimusnahkan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan VIREXI atau VITURA . Biasanya pada bawang lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dengan ciri terdapat garis hitam di perut /kalung hitam di leher, dikendalikan dengan VIREXI.Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya dan tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dari sisa-sisa tanaman atau rerumputan yang jadi sarangnya. Semprot dengan PESTONA. Penyakit yang harus diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dengan cepat (Jawa : ngoler). Tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau dibakar di tempat yang jauh. Preventif kendalikan dengan GLIO.
  2. Penyiangan dan Pembumbunan : Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST dan dilakukan secara mekanik untuk membuang gulma atau tumbuhan liar yang kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang. Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir dan dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedengan yang rusak atau longsor perlu dirapikan kembali dengan cara memperkuat tepi-tepi selokan dengan lumpur dari dasar saluran (di Brebes disebut melem).
  3. Pemupukan pemeliharaan/susulan : Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis dan kondisi tanah setempat. Jika kelebihan Urea/ZA dapat mengakibatkan leher umbi tebal dan umbinya kecil-kecil, tapi jika kurang, pertumbuhan tanaman terhambat dan daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga dapat menyebabkan ujung daun mengering dan umbinya kecil. Pemupukan dilakukan 2 kali ( dosis per 1000 m2 ) :- 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl- 4 minggu : 3-7 kg Urea+ 7-15 kg ZA+12-17 kg KClCampur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut dan aplikasikan di sekitar rumpun atau garitan tanaman. Pada saat pemberian jangan sampai terkena tanaman supaya daun tidak terbakar dan terganggu pertumbuhannya.Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur ± 2 minggu.
  4. Pengairan : Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit. Penyiraman sore hari dihentikan jika persentase tanaman tumbuh telah mencapai lebih 90 %Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merahTinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dari permukaan bedengan pertanaman.
Fase vegetatif  ( 11- 35 HST ) :
  1. Pengamatan Hama dan Penyakit : Hama Ulat bawang, S. litura dan S. exiguaThrips, mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dengan suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang yang terserang warnanya putih berkilat seperti perak Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dengan kelembaban diatas 70%. Jika ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati predator kumbang macan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan BVR atau PESTONA.Penyakit Bercak Ungu atau Trotol, disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi atau percikan air dari tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau putih-kelabu di daun dan di tepi daun kuning serta mongering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi busuk sampai berair dengan warna kuning hingga merah kecoklatan. Jika ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif dengan penebaran GLIO. Penyakit Antraknose atau Otomotis, disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan adalah ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan yang akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah Brebes: otomatis). Jika ada gejala, tanaman terserang segera dicabut dibakar dan dimusnahkan. Untuk jamur yang ada didalam tanah kendalikan dengan GLIO. Penyakit oleh virus.- Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah dan terkulai serta anakannya sedikit. Usahakan memakai bibit bebas virus dan pergiliran tanaman selain golongan bawang-bawangan.Busuk umbi oleh bakteri.- Umbi yang terserang jadi busuk dan berbau. Biasa menyerang setelah dipanen. Usahakan tempat yang kering.- Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.- Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu. Jaga agar tanah tidak terlalu becek (atur drainase).- Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman lain (bukan golongan Bawang-bawangan. PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi serangan hama-penyakit.
  2. Pengelolaan Tanaman : Penyiangan kedua dilakukan pada umur30-35 HST dilanjutkan pendagiran, pembumbunan dan perbaikan bedengan yang rusak.- Penyemprotan POC NASA dengan dosis 4-5 tutup/tangki tiap 7-10 hari sekali mulai 7 hari setelah tanam hingga hari ke 50-55. Mulai hari ke 35 penyemprotan ditambah HORMONIK dengan dosis 1-2 tutup/ tangki (dicampurkan dengan NASA).- Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, jika ada serangan Thrips dan ada hujan rintik-rintik penyiraman dilakukan siang hari.     

Pembentukan umbi ( 36 - 50HST ) : Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, yang perlu diperhatikan adalah pengairannya. Butuh air yang banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari.

Pematangan umbi ( 51- 65 HST ) : Pada fase ini tidak begitu banyak air sehingga penyiraman hanya dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari.

Panen dan pasca panen :
  1. Panen> 60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.> Panen dilakukan pada pagi hari yang cerah dan tanah tidak becek> Pemanenan dengan pencabutan batang dan daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong).
  2. Pasca Panen- Penjemuran dengan alas anyaman bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran pertama selama 5-7 hari dengan bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua selama2-3 hari dengan umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi dan sekaligus dilakukan pembersihan umbi dari sisa kotoran atau kulit terkelupas dan tanah yang terbawa dari lapangan. Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.- Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dengan baik, suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%.
artikel : Teknik tepat budidaya bawang merah
Sugeng Prayitno, 5 Maret 2013.
Dalam rangka Workshop e-Petani di Ros In Hotel Yogyakarta.

Tips budidaya cabe rawit yang baik dan benar

Budidaya cabe rawit
Budidaya cabe rawit memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan menjadi peluang usaha yang menjanjikan jika dilakukan secara sungguh-sungguh. Bayangkan saja 1 hektar lahan cabe rawit mampu menghasilkan 8 ton buah cabe. Cabe rawit bisa ditanam di dataran tinggi atau dataran rendah dan sangat cocok ditanam di dataran tinggi yaitu pada ketinggian 0,5 -1.250 m dpl.
Beberapa varietas cabe rawit yaitu :
  1. cengek leutik: buah lebih kecil, berwarna hijau, berdiri tegak pada tangkainya.
  2. cengek domba : buah lebih besar, buah muda berwarna putih, berwarna jingga jika sudah tua.
  3. ceplik : buah besar, buah muda berwarna hijau dan berwarna merah setelah tua.
Berikut ini Varietes cabe rawit yang sering dibudidayakan  :
  1. Cabe kecil atau cabe jemprit buahnya kecil dan pendek , lebih pedas dibandingkan Jenis cabe lainnya.
  2. Cabe putih atau cabe domba buahnya lebihbesar dari cabe jemprit atau cabe celepik , dan rasanya kurang enak.
  3. cabe celepik buahnya lebih besar dari pada cabe jemprit dan lebih kecil dari cabe domba. Rasanya tidak sepedas cabe jemprit . sewakti muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah cerah .
Hal yang harus diperhatikan jika anda ingin membudidayakan cabe rawit :
  1. Keadaan Tanah : Tanah berstruktur remah/ gembur dan kaya akan bahan organik, Derajat keasaman (PH) tanah antara 5,5 - 7,0, Tanah tidak becek/ ada genangan air,  Lahan pertanaman terbuka atau tidak ada naungan.
  2. Iklim : Curah hujan berkisar 1500-2500 mm pertahun dengan distribusi merata. Suhu udara 16° - 32 ° C .
  3. Saat pembungaan sampai dengan saat pemasakan buah, keadaan sinar matahari cukup (10 - 12 jam).
Teknik Budidaya
  1. Persemaian                                                                                                                        Kebutuhan benih setiap hektar pertanaman adalah 150 - 300 gram dengan daya tumbuh lebih dari 90 %. Siapkan media semai dari tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 yang dibuat bedengan setinggi ± 20 cm, lebar ± 1 m dan panjang 3-5 m. Sebar benih secara merata atau ditebar dalam garikan dengan jarak antar garitan 5 cm dan ditutup tanah tipis-tipis lalu disiram. Setelah bibit berumur 10 hari, maka dilakukan pengkokeran, dengan menggunakan daun pisang, daun kelapa dan kantung plastik. Sekitar lima hari sebelum bibit dipindahkan naungan pada persemaian dibuka atau dikurangi supaya bibit terbiasa kena sinar matahari.
  2. Pengolahan Tanah                                                                                                                        Satu minggu sebelum tanam lahan sudah siap, meliputi pencangkulan/bajak dan pembuatan bedengan.Ukuran bedengan tinggi ± 30 cm, lebar 1-1,5 m dan panjang sesuai kebutuhan petakan dengan j arak antar bedengan + 30 cm. Berikan pupuk kandang dengan dosis 20-30 ton/ ha.
  3. Penanamam                                                                                                                                   Bibit dipindahkan pada umur 28-35 hari setelah semai dengan daun 5 – 7 helai, besarnya seragam, dengan posisi tegak, penyiraman dilakukan 2 hari sekali bila tidak ada hujan.
  4. Pemupukan                                                                                                                         Diberikan dengan dosis dan aplikasi sebagai berikut: Pupuk kandang 20 ton / ha, siangi seminggu sebelum tanam. Urea 150 kg/ ha, umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap aplikasi, ZA 400 kg/ ha. Umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap aplikasi, TSP - 36 : 150 kg/ ha, aplikasi seminggu sebelum tanam, KCL :100 kg/ ha, umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap aplikasi. Bila dipergunakan mulsa dari plastik dapat dipasang setelah dilakukan pemupukan pupuk kandang den bile dipergunakan mulsa dari limbah tanaman seperti dang-slang den sisa-sisa tanaman dapat diberikan setelah penanaman bibit.
  5. Pemeliharan                                                                                                                           Lakukan penyulaman, pemasangan ajir pada saat penanaman atau setelah tanaman setinggi 30 s/d 50 cm dan langsung diikat, panjang ajir + 1,5 m.Pengendalian Hama dan Penyakit.
    Hama dan penyakit
    • Kutu, daun persik,  penanggulangan : menggunakan Curacron , Tohuthion.
    • Ulat Grayak, penanggulangan : menggunakan Methrin, Dimilin dan Atabron.
    • Hama Trips, penanggulangan : menggunakan Nogos, Nuracran, Malathion
    • Bercak Daun, Busuk Batang dan Busuk Buah : digunakan Antracol, Dithane, M-45, Cupapit, Dipolatan AF
      .
  6. Panen                                                                                                                                        Panenlah cabai, bila cabe warna buahnya lebih dari 60 % (Warna buah masih belang hitam).Pemanenan dapat dilakukan setiap 3-5 hari sekali secara terus menerus sampai tanaman tidak menghasilkan. Sewaktu panen sertakan tangkai buahnya, lakukan secara selektif dan hati – hati agar bunga, buah agar batang tidak rontok/ rusak.
Sampai disini artikel tentang Tips budidaya cabe rawit yang baik dan benar. Semoga artikel ini bermanfaat.
Artikel ditulis oleh : Zulkarnain Bone Bolango

Cara mudah menanam tomat

Bagi anda yang memiliki hoby berkebun khususnya yang ingin mencoba membudidayakan tomat, alangkah baiknya jika anda mempelajari terlebih dahulu tentang tehnik atau cara pembudidayaannya. Sekarang saya akan berbagi tips mudah bagaimana cara menanam tomat, langsung saja ya..

Cara budidaya tomat


Tempat penanaman :
  1. tanaman tomat idealnya bagus di budidayakn di daerah yang memiliki curah hujan antara 750mm-1.250mm/tahun. Tingginya intensitas Sinar matahari akan menghasilkan vitamin C dan karoten yang lebih baik pada buah tomat.
  2.  Tomat dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah (tanah pasir, tanah gembur), namun tanaman tomat sangat rentan akan kekuranga kadar oksigen, karena jangan sampai tergenang air. (ph) keasaman tanah yang cocok berkisar  5,5-7,0.
  3.  Pilihlah lokasi tanam yang datar agar lebih mudah dalam pengolahan tanah. Untuk dataran tinggi varietas yang cocok adalah  varietas kada,varietas mutiara,varietas berlian. Untuk dataran rendah varietas yang cocok adalah varietas ratna, varietas intan, varietas berlian, varietas CLN, varietas LV.
Cara pembibitan benih :
Biji  tidak boleh cacat luka,Bersihkan biji dari kotoran, pilih biji yang sehat (tidak terserang hama), pilih bibit yang tidak keriput. Benih tomat yang berkualitas dapat anda beli di toko pertanian yang menyediakan benih - benih bibit unggul.

Cara penyemaian benih :
Basahi media tanam terlebih dahulu dan sebelum benih di semai sebaiknya di rendam terkebih dulu di larutan fungisida agar mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit mati. buatlah lubang sedalam 1cm denga jarak 5cm,masing -masing lubang di isi dengan 1-2 biji benih lalu tutup tipis- tipis saja. Penyemaian juga bisa di lakukan di  polybag isi dengan 1 benih per polybag. Selanjutnya untuk pemeliharan, siramlah 2 kali sehari pagi dan sore dan jangan lupa bersihkan jika ada gulma yang tumbuh.Setelah benih tumbuh,lakukan lah pemupukan dengan campuran pupuk kandang dan pupuk kimia NPK secukupnya. Selanjutnya semprotkan obat-obatan untuk memberantas hama seperti serangga dan fungisida. Obat yang dapat di aplikasikan seperti Furadan 3 g,Antracol dan Dithane Hostathion.

Pemindahan Bibit :

Pemindahan di lakukan setelah bibit berumur 31-46 hari.Pilhlah bibit yang terlihat segar,bagus dan sehat. Lakukan pemindahan pada cuaca yang tidak panas yaitu pada pagi atau sore hari supaya bibit tidak layu.
Cara pemindahan ada 2 cara :
  1. Basahi tanah disekitar bibit terlabih dahulu supaya bibit mudah di cabut, lalu cabut secara perlahan.
  2. Basahi tanah disekitar bibit, lakukan taknik putar ambil bibit beserta tanahnya. jika  anda mengggunakan media polybag, cara pemindahannya adalah dengan merobek kantok polybag yang sudah di basahi sebelumnya.
Pengolahan tanah :
  1. Gemborkan tanah dengan menggunakan traktor dengan kedalaman +-25 cm, diamkan selama seminggu.
  2.  Ratakan permukaan tanah dengan cangkul lalu diamkan sampai 1 minggu.
  3.  Lakukan pemupukan dasar dengan pupuk kandang yang masak (16-20 ton/ha). Selanjutnya cangkul kembali agar tanah dan pupuk tercampur secara merata.
Membuat bedengan :
Buatlah bedengan dengan lebar 1-1,2 meter,tinggi 30cm,ukuran lebar parit 20-30cm dengan kedalaman 30cm. Bedengan di buat membujur arah timur barat supaya cahaya tersebar secara merata.Jika musim penghujan bedengan dibuat lebih tinggi yaitu 40-45cm,kedalaman parit 50cm danlebar 50 cm.

 Pemberian kapur :
Hal ini dilakukan untuk mengatur keasaman tanah sesuai ukuran ideal yang di butuhkan dan nilai pH tanah setempat. Pengapuran dilakukan bersamaan saat penolahan tanah karena pertumbuhan tanaman akan terganggu bahkan mati jika dilakukan pengapuran secara langsung. Pengapuran akan memperbaiki struktur tanah, menurunkan zat yang bersifat racun dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah.

Pemupukan :
Sebelum penanaman, lakukan pemupukan dasar terlebih dahulu dengn cara:
  1. Taburi tanah dengan pupuk kandang /kompos dan TSP, cangkul hingga merata.
  2. Buatlah lubang sedalam + 14 cm dan diameter + 20 cm. Lubang-lubang itu selanjutnya diberi pupuk kandang atau kompos dengan ukuran 0,5 kg (satu genggam besar) juga TSP sebanyak + 5 gram. Lubang ditutup dengan tanah, lalu diaduk-aduk sehingga tercampur merata.
Penutup tanah (Mulsa) :
sekarang mulsa (plastik hitam) banyak di gunakan petani untuk menutupi bedengan.

Cara penanaman :
ada 2 cara ,yaitu :
  1. Sistem dirempel  : Jarak tanam nya 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm, bujur sangkar atau segitiga sama sisi. Cara menanam  ini bertujuan agar tunas-tunas yang tumbuh diambil (dipotong) sedini mungkin, sehingga tanaman hanya memiliki satu batang tanpa cabang.
  2. Sistem bebas
    Ukuran nya 80 cm x 100 cm; 80 cm x 80 cm; 80 cm x 100 cm; 100 cm x 100 cm. Bentuk yang digunakan dapat berupa bujur sangkar, segipanjang atau segitiga sama sisi.  Cara ini bertujuan agar tunas-tunas yang tumbuh menjadi cabang-cabang besar dan dapat berubah.
Pembuatan Lubang Tanam :
Bedengan yang sudah siap untuk penanaman, sehari sebelumnya sebaiknya diairi terlebih dahulu agar basah. Lalu  bedeng yang sudah tertutup mulsa plastik dibuat lubang tanam dengan diameter 7-8 cm sedalam 15 cm. Jarak Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan.

Pemeliharaan Tanaman :
Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati, rusak atau yang pertumbuhannya tidak normal. Sebaiknya Penyulaman dilakukan satu minggu setelah penanaman. Bibit yang digunakan untuk menyulam sebaiknya diambil dari bibit cadangan yang telah dipersiapkan sebelumnya bersamaan dengan bibit lain yang bukan bibit cadangan.
Cara penyulaman yaitu apabila ada tanaman yang telah mati, rusak, layu, atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, lalu buat lubang tanam baru dibekas tanamn sebelumnya, bersihkan dan beri Furadan 0,5 gram jika dianggap perlu. Kemudian, bibit yang baru ditanam pada tempat tanaman terdahulu dengan cara penanaman bibit terdahulu. Penyiangan dilakukan 3-4 kali tergantung kondisi kebun.

Pembubunan
Pembubunan akan memperbaiki peredaran udara dalam tanah dan mengurangi gas-gas atau zat-zat beracun yang ada di dalam tanah. Tanah yang padat harus segera digemburkan. Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar akar tanaman tidak rusak. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.

Perempalan
  1. Tunas yang tumbuh di ketiak daun harus cepat-cepat dirempel/dipangkas supaya tidak menjadi cabang. Perempalan selambat-lambatnya dilakukan 1 minggu sekali. Pada tanaman tomat yang tingginya terbatas, perempalannya harus dilakukan secara hati-hati supaya tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak terlalu pendek.
  2. Sebaiknya Perempalan dilakukan pada pagi hari agar luka bekas rempalan cepat kering dengan cara: ujung tunas dipegang dengan tangan yang bersih, lalu digerakkan ke kanan kiri sampai tunas tersebut lepas. Jika terlambat merempel, cabang tunas akan menjadi besar dan sulit putus.
  3. Tunas yang sudah menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting tajam yang bersih.
  4. Tinggi tanaman tomat dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman kira-kira jumlah dompolan buahnya sudah mencapai 5-7 buah.
cara pemupukan :
  1. Setelah tanaman berumur sekitar 1 minggu , harus segera diberi pupuk buatan. Dosis pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman antara 1-2 gram. Pemupukan dilakukan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat lalu pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. Pupuk Urea dan KCl tidak boleh mengenai tanaman karena dapat melukai tanaman.
  2. Pemupukan kedua dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl sebanyak ± 5 gr. Pemupukan dilakukan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan dalamnya ± 1 cm kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air.
  3. Bila pada umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk lagi dengan Urea dan KCl sebanyak 7 gram. Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh yaitu ± 7 cm.
Penyiraman dan Pengairan
Kebutuhan air untuk budidaya tanaman tomat tidak terlalu banyak, tapi tidak boleh sampai kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan akan menyebabkan tanaman tomat tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Kelembaban tanah yang tinggi mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan patogen sehingga tanaman tomat  mati keracunan karena kandungan oksigen  tanah berkurang. Pori-pori yang terisi oleh air mendesak oksigen keluar dari dalam tanah sehingga tanah menjadi anaerob yang menyebabkan proses oksidasi berubah menjadi proses reduksi. Keadaan tanah seperti itu akan menyebabkan kerontokan bunga dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan sehingga mengurangi pertumbuhan dan perkembangan generatif (buah).
Kekurangan air yang berkepanjangan pada tanaman tomat akan mengganggu pertumbuhan tanaman pada stadia awal, mengakibatkan pecah-pecah pada buah apabila kekurangan air terjadi pada saat pembentukan hasil dan dapat menyebabkan kerontokan bunga apabila kekurangan air terjadi selama periode pembungaan.
Pemasangan penyangga / ajir
Pemasangan ajir dimaksudkan untuk mencegah tanaman tomat roboh. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  1. Ajir (lanjaran) terbuat dari bambu atau kayu dengan panjang antara 100-175 cm, tergantung dari varietasnya.
  2. Pemasangan ajir dilakukan ketika tanaman masih kecil dan akar masih pendek, supaya akar tidak putus tertusuk ajir. Jarak ajir dengan batang tomat ± 10-20 cm.
  3. Ada banyak cara memasang ajir, contohnya ajir dibuat tegak lurus atau ujung kedua ajir diikat sehingga membentuk segitiga. Agar tidak dimakan rayap, ajir diolesi dengan ter atau minyak tanah.
  4. Tanaman tomat yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir. Pengikatan jangan terlalu erat yang penting tanaman tomat dapat berdiri. Pengikatan dilakukan dengan model angka 8 sehingga tidak terjadi gesekan antara batang tomat dengan ajir yang dapat menimbulkan luka. Tali pengikat, misalnya tali plastik harus dalam keadaan bersih. Setiap bertambah tinggi ± 20 cm, harus dilakukan pengikatan lagi agar batang tomat selalu berdiri tegak.
Waktu Panen :
Ciri dan Umur Panen
Pemetikan buah tomat  dilakukan saat tanaman berumur 60-100 hari setelah tanam tergantung pada varietasnya. Kriteria panen yang optimal dapat terlihat pada  ukuran buah, warna kulit buah, keadaan daun tanaman dan batang tanaman, yakni :
  1.  warna Kulit buah berubah, dari warna hijau menjadi kekuning-kekuningan.
  2.  Pada bagian tepi daun tua telah mengering.
  3.  Pada batang tanaman menguning/mengering.
Waktu pemetikan buah (pagi, siang, sore) juga berpengaruh pada kualitas yang dipanen. Waktu yang tepat untuk pemetikan buah tomat yang baik adalah pada pagi atau sore hari dan keadaan cuaca cerah. Pemetikan yang dilakukan pada siang hari dari segi teknis kurang menguntungkan karena pada siang hari proses fotosintesis masih berlangsung sehingga mengurangi zat-zat gizi yang terkandung. Selain itu, keadaan cuaca yang panas akan meningkatkan temperatur dalam buah tomat sehingga dapat mempercepat proses penguapan air pada buah. Keadaan ini  menyebabkan tomat cepat busuk.

Cara Panen
Teknik pemetikan buah tomat cukup dilakukan dengan memuntir buah secara hati-hati hingga tangkai buah terputus. Pilih buah yang sudah matang. Kemudian, Kumpulkan buah tomat  ke dalam keranjang untuk dikumpulkan di tempat penampungan. Tempatkan tomat di area yang teduh.

Periode Panen buah tomat tidak dapat bisa dilakukan sampai 10 kali pemetikan hal ini dikarenakan proses masaknya buah tomat tidak bersamaan waktunya. Pemetikan  bisa dilakukan pada selang waktu  2-3 hari sekali.

Sampai disini dulu artikel tentang cara mudah menanam tomat, semoga bermanfaat.



Tips bagaimana budidaya kacang tanah

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tips bagaimana cara budidaya kacang tanah atau yang bernama nama latin : Arachis hypogeae L. Berikut ini tipsnya :

budidaya kacang tanah

1. SEJARAH SINGKAT
Kacang tanah yang ada di Indonesia semula berasal dari benua Amerika. Pemasukan ke Indonesia pertama- tama diperkirakan dibawa oleh pedagang pedagang Spanyol, sewaktu melakukan pelayarannya dari Mexico ke Maluku. setelah tabun 1597. Pada tahun 1863 HOLLE memasukkan Kacang Tanah dari Inggris dan pada tahun 1864 SCHEFFER memasukkan pula Kacang Tanah dari Mesir.

2. JENIS TANAMAN
Jenis tanaman yang ada di Indonesia ada 2 ( dua ) tipe yaitu : Tipe tegak. Jenis Kacang ini tumbuh lurus atau sedikit miring keatas, buahnya terdapat pada ruas-ruas dekat rumpun, umumnya pendek ( genjah ) dan kemasakan buahnya serempak. Tipe menjalar. Jenis ini tumbuh kearah samping, batang utama berukuran panjang, buah terdapat pada ruas-ruas yang berdekatan dengan tanah dan umumnya berumur panjang.

3. MANFAAT TANAMAN
Tanaman Kacang tanah bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak, sedang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati , minyak dan lain-lain.

4. SENTRA PENANAMAN
Sentra penanaman/produksi Kacang tanah di Indonesia meliputi Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, D.l. Yogyakarta, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
5. SYARAT TUMBUH
  1. Iklim
    Di Indonesia, tanaman Kacang Tanah cocok ditanam didataran rendah yang berketinggian dibawah 500 m diatas permukaan laut. lklim yang dibutuhkan tanaman Kacang Tanah adalah bersuhu tinggi antara 25°C -
    32°C, sedikit lembab ( rH 65 % - 75 % ), curah hujan 800 mm -1300 mm per tahun, tempat terbuka.
  2. Media Tanam / Tanah
    Tanaman Kacang Tanah membutuhkan tanah yang berstruktur ringan, seperti tanah regosol, andosol, latosol dan alluvial. Kacang tanah dapat dibudidayakan di lahan sawah berpengairan, sawah tadah hujan, lahan kering tadah hujan. Hal yang paling penting diperhatikan dalam pemilihan lahan adalah :
  3. - Tanah cukup subur, gembur serta bertekstur ringan.
    - Tanah berdrainase dan beraerasi baik.
    - PH antara 6,0 -6,5.

6 . PEDOMAN BUDIDAYA
  1. Benih
    Benih berasal dari tanaman sehat, bebas hama dan penyakit, kualitas bijinya baik dan mempunyai kemurnian tinggi sehingga dapat berkecambah cepat dan merata. Dipanen tepat pada waktunya ( sudah cukup tua ) , polong tidak pecah, pengolahan basil dan pengupasan benih dilakukan dengan baik. Mempunyai hasil tinggi dan berumur genjah.
  2. Pengolahan Tanah
        Pengolahan tanah dilakukan dengan alat cangkul, luku atau traktor sedalam 20- 30 cm. Tujuan pengolahan tanah adalah untuk memperbaiki struktur dan aerasi tanah agar pertumbuhan akar dan pengisapan zat hara oleh tanaman dapat berlangsung dengan baik.
  3. Penanaman
       Waktu tanam yang paling baik dilahan tegalan ( kering ) adalah pada awal musim hujan ( Oktober - Nopember ). Di lahan sawah penanaman dapat dilakukan pada bulan April -Juni ( Palawija I ) atau bulan Juli -September)
    Cara tanam :
    Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal sedalam 3 cm dengan 2 butir benih perlubang dan jarak tanam 40 cm x 10 cm. Kemudian lubang tanam ditutup tanah secara tipis.
  4. Pemeliharaan Tanaman
       Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea, SP36 dan KCI dengan dosis 60-90 kg Urea, 60-90 kg SP36 dan 50 kg KCI. Per hektar. Pemupukan dilakukan dengan memasukkan pupuk kedalam lubang tugal disisi kiri kanan lubang tanam atau disebar merata kedalam larikan.
    Penyulaman :
    Penyulaman dilakukan apabila ada benih yang tidak tumbuh. Penyulaman dilakukan dengan membuat lubang tanam baru pada bekas lubang tanam terdahulu. Tujuan dari penyulaman ini adalah untuk mempertahankan
    populasi.
    Penyiangan dan Pembumbunan :
    Penyiangan dilakukan 2 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam dan penyiangan kedua dilakukan pada umur 40 bari setelah tanam. Pada penyiangan kedua ini juga
    dilakukan pembumbunan yaitu tanah digemburkan kemudian ditimbun didekat pangkal batang tanaman. Pembumbunan bertujuan memudahkan bakal buah menembus permukaan tanah sehingga pertumbuhannya
    optimal.
    Pengairan
    Tanaman kacang tanah tidak menghendaki air yang menggenang. Fase kritis untuk tanaman Kacang Tanah adalah rase perkecambahan, rase pertumbUhan dan rase pengisian polong. Waktu pengairan yang baik
    adalah pagi atau sore hari dengan cara dileb hingga tanah cukup basah.
  5. Hama dan Penyakit Kacang Tanah
    1. Penyakit Layu.
      Penyakit Layu disebabkan oleh bakteri Xanthomonas Solanacearum. Pada siang hari waktu sinar matahari terik tanaman sekonyongkonyong terkulai seperti disimm air panas, tanaman langsung mati. Cara pengendalian dengan pergiliran tanaman.
    2. Penyakit Bercak Daun
      Penyakit Bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora personata. Bercak yang ditimbulkan pada daun sebelah atas coklat sedangkan sebelah bawah daun hitam. Ditengah bercak daun kadangkadang terdapat bintik hitam dari Conidiospora. Cendawan ini timbul pada tanaman umur 40 -50 hari hingga 70 hari. Cendawan ini dapat dikendalikan dengan Anthmcol atau Daconil.
    3. Penyakit Selerotium.
    4. Penyakit ini disebabkan oleh Selerotium rolfsii, merusak tanaman pada waktu cuaca lembab. Cendawan menyerang pada pangkal batang, bagian dari tanaman yang lunak, menimbulkan bercak-bercak hitam.
      Tanaman yang terserang akan layu dan mati. Pengendalian : dengan memperbaiki pengairan, agar air pengairan dapat mengalir.
  6. Penyakit Karat.
    Penyakit ini disebabkan oleh Uromyces arachidae, menyerang tanaman yang masih muda menyebabkan daun berbintik-bintik coklat daun menjadi mongering. Pengendaliannya dengan menanam varitas yang tahan.
  7. Hama Empoasca.
    Hama yang penting bagi tanaman kacang tanah adalah hama Empoasca. Hama ini tidak terlalu merugikan bagi tanaman kacang tanah. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan Azodrin, Karphos atau lnsektisida yang tersedia.

7.  P A N E N
Penentuan saat panen yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan produk Kacang Tanah. Pedoman umum yang digunakan sebagai kriteria penentuan saat panen Kacang Tanah adalah sbb : :
- Sebagian besar daun menguning dan gugur ( rontok ).
- Tanaman berumur 85 -110 hari tergantung,Varietasnya. -Sebagian besar polongnya ( 80 % ) telah tua. "
- Kulit polong cukup keras dan berwarna cokelat kehitam-hitaman.
- Kulit biji tipis dan mengkilap.
- Rongga polong telah berisi penuh dengan biji.
Panen dilakukan dengan mencabut batang tanaman secara hati-hati agar polongnya tidak tertinggal dalam tanah.
8. PASCA PANEN
Kegiatan pokok pasca panen Kacang Tanah adalah sebagai berikut :
a. Setelah dipanen brangkasan Kacang Tanah dipotong lebih kurang 10 cm kemudian dibersihkan.
b. Pemipilan : Pipil polong Kacang Tanah dari batangnya dengan tangan.
c. Pengeringan : Tebarkan polong Kacang Tanah di atas anyaman bambu atau tabir sambil dijemur dibawah  
    terik matahari sampai kering (Kadar air 9% - 12%).
d. Penyimpanan.
    1) Penyimpanan dalam bentuk polong kering
    2) Penyimpanan dalam bentuk biji kering
        Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur biji kacang
        tanah hingga berkadar air 9% lalu masukkan ke dalam wadah tertutup untuk disimpan atau dijual.
        Masukkan polong kering kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat, lalu simpan digudang
        penyimpanan yang tempatnya kering.

Demikian artikel  tentang Tips bagaimana budidaya kacang tanah, semoga ada manfaatnya.

Sumber :
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul
Jalan KH. Wahid Hasyim 210 Palbapang Bantul 55713

Cara mudah budidaya kacang panjang

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi tips dan trik budidaya kacang panjang :

cara budidaya,menanam kacang panjang

SYARAT PERTUMBUHAN
Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol / lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20- 30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.

PEMBIBITAN
- Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: penampilan bernas/kusam, daya
   kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan
   benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg.
- Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah
  disiapkan.

PENGOLAHAN MEDIA TANAM
- Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak hingga tanah menjadi gembur.
- Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm,tinggi 30 cm, panjang
   tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan
   jarak antara guludan 30-40 cm
- Lakukan pengapuran jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dolomit sebanyak 1-2 ton/ha dan
  campurkan secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm
- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1
   botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2(10 botol/ha). Hasil
   akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut :

  • alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk.
  • Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
  • alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.

TEKNIK PENANAMAN
- Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam
   tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
- Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang
   musim asal air tanahnya memadai
- Benih direndam POC NASA dosis 2 tutup/liter selama 0,5 jam lalu tiriskan
- Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur.

PENYULAMAN
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.

PENYIANGAN
Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.

PEMANGKASAN / PEREMPELAN
Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga.

PEMUPUKAN
Dosis pupuk makro sebagai berikut :

WaktuDosis Pupuk Makro (per ha)
KCl (kg) SP-36(kg)KCI (kg)
Dasar507525
Umur 45 hari502575
Total100100100

Catatan : Atau sesuai rekomendasi setempat.

Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam POC NASA diberikan 1-2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4-8 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 M2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan (dapat disiramkan dengan dosis + 2 tutup/10 liter air ).

PENGAIRAN

Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT

a. Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)

Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan PESTONA.

b. Kutu daun (Aphis cracivora Koch)

Gejala : pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan Natural BVR

c. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)

Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, Semprot Natural VITURA

d. Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)

Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.

e. Ulat bunga ( Maruca testualis)

Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan PESTONA

f. Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum )

Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.

g. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).

Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

h. Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)

Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.

i. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )

Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

PANEN DAN PASCA PENEN

- Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di 
   dalam polong tidak menonjol

- Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan

- Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau
   tajam.

- Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi

- Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan.

Semoga artikel  cara mudah budidaya kacang panjang di atas bermanfaat.

sumber : http://www.e-bookspdf.org/view/aHR0cDovL3Nhd2l0d2F0Y2gub3IuaWQvZG93bmxvYWQvbWFudWFsJTIwZ
GFuJTIwbW9kdWwvMTQwX0J1ZGklMjBEYXlhJTIwS2FjYW5nJTIwUGFuY2FuZ
y5wZGY=/TW9kdWwgQnVkaWRheWEgS2FjYW5nIFBhbmphbmcgU3lhcmF0IFBl
cnR1bWJ1aGFuIFBlbWJpYml0YW4=

Teknik budidaya jahe merah yang baik dan benar

Berikut ini tips budidaya atau cara menanam  jehe merah  :

cara budidaya-menanam jahe merah

JAHE ( Zingiber Officinale )
1. SEJARAH SINGKAT
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain. Nama daerah jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb.

2. URAIAN TANAMAN
2.1 Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale
2.2 Deskripsi
Terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2
2.3 Jenis Tanaman
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
  1. Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
  2. Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
  3. Jahe merah
    Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.
3. MANFAAT TANAMAN
Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe menggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan kerosin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain. Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.

 4. SENTRA PENANAMAN
Terdapat di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

5. SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim
  1. Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
  2. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
  3. Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35o C.
    5.2. 
 Media Tanam
  1. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
  2. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.
  3. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.
5.3. Ketinggian Tempat
  1. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 m dpl.
  2. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan

  1. Persyaratan Bibit : Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain : Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar). Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan). Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.
  2. Teknik Penyemaian Bibit : Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.
  3.                     
    a.Penyemaian pada peti kayu
    Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.
    b. Penyemaian pada bedengan
    Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

  4. Penyiapan Bibit : Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.
6.2. Pengolahan Media Tanam
  1. Persiapan Lahan : Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal harus diperhatikan syaratsyarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman jahe. Bila keasaman tanah yang ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tanaman jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.
  2. Pembukaan Lahan : Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.
  3. Pembentukan Bedengan : Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus untuk encegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.
  4. Pengapuran : Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.
  5. a. Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
    b. Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
    c. Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.
    Pengapuran dilakukan 2 minggu Sebelum tanam.

  6. Pupuk hayati MiG-6PLUS : 3 hari sebelum tanam, semprotkan/siramkan larutan MiG-6PLUS (1 liter MiG-6PLUS : air max 200 liter) pada permukaan bedengan. Biarkan selama 3 hari, kemudian bibit siap ditanam. Tahap ini diperlukan 2 liter MiG-6PLUS/Ha.
6.4. Teknik Penanaman
  1. Penentuan Pola Tanaman : Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi dan produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karenaselalu menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
  2. a. Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
    b. Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
    c. Meningkatkan produktivitas lahan.
    d. Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu). Praktek di lapangan, ada jahe yang ditumpangsarikan dengan sayursayuran, seperti ketimun, bawang merah, cabe rawit, buncis dan lain-lain. Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya.
  3. Pembutan Lubang Tanam
    Untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam bibit.
  4. Cara Penanaman
    Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan.
  5. Perioda Tanam
    Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya.
6.5. Pemeliharaan Tanaman
  1. Penyulaman
    Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan untuk melihat rimpang yang mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik serta pemeliharaan yang benar.
  2. Penyiangan
    Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.
  3. Pembubunan
    Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila



  4. tanaman jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.
  5. Pemupukan
    a.Pemupukan Organik
    Pada pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.
    b.Pemupukan Konvensional
    Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman
    c.Pemberian pupuk hayati MiG-6PLUS
    Pada saat pemeliharaan, berikan larutan pupuk hayati MiG-6PLUS (1 liter MiG-6PLUS : air max 200 liter) pada lahan di sekitar perakaran, ulangi setiap 2 bulan sekali sampai bulan ke 6. Pada tahap ini kebutuhan pupuk hayati MiG-6PLUS masing-masing sebanyak 2 liter per ha.
  6. Pengairan dan Penyiraman
    Tanaman Jahe tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September.
  7. Waktu Penyemprotan Pestisida
    Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yang untuk disemai dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan jahe.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
Hama yang dijumpai pada tanaman jahe adalah:
  1. Kepik, menyerang daun tanaman hingga berlubang-lubang.
  2. Ulat penggesek akar, menyerang akar tanaman jahe hingga menyebabkan tanaman jahe menjadi kering dan mati.
  3. Kumbang.
7.2. Penyakit
  1. Penyakit layu bakeri
    Gejala: Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat dan menggulung kemudian terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning dan mengering. Kemudian tunas batang menjadi busuk dan akhirnya tanaman mati rebah. Bila diperhatikan, rimpang yang sakit itu berwarna gelap dan sedikit membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir berwarna putih susu sampai kecoklatan. Penyakit ini menyerang tanaman jahe pada umur 3-4 bulan dan yang paling berpengaruh adalah faktor suhu udara yang dingin, genangan air dan kondisi tanah yang terlalu lembab. Pengendalian:a) jaminan kesehatan bibit jahe; b) karantina tanaman jahe yang terkena penyakit; c) pengendalian dengan pengolahan tanah yang baik; d) pengendalian fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%).
  2. Penyakit busuk rimpang
    Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C dan terus berkembang akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk. Gejala: Daun bagian bawah yang berubah menjadi kuning lalu layu dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian:a) penggunaan bibit yang sehat; b) penerapan pola tanam yang baik; c) penggunaan fungisida.
  3. Penyakit bercak daun
    Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka. Gejala: Pada daun yang bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercakbercak itu berwarna abu-abu dan ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yang terserang bisa mati. Pengendalian: baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya dengan cara-cara yang dijelaskan di atas.
7.3. Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, dan gulma berdaun lebar lainnya.

7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organik
Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian HamaTerpadu) yang komponennya adalah sbb:
  1. Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman.
  2. Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami.
  3. Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  4. Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
  5. Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.
  6. Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan. 
Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:
  1. Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids.
  2. Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.
  3. Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

  4. Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.
  5. Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
  6. Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan untuk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang dan sisanya dibiarkan sampai tua. Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua. Umur tanaman jahe yang sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.

8.2. Cara Panen
Cara panen yang baik, tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah dan kotoran lainnya yang menempel pada rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.

8.3. Periode Panen
Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan Juni – Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.

8.4. Perkiraan Hasil Panen
Produksi rimpang segar untuk klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan untuk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.

Terimakasih telah bekunjung membaca artikel teknik budidaya jahe merah yang baik dan benar di blog ini.

Sumber:
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
MIG Corp.